Latest Post

Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI HIDUP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI HIDUP. Tampilkan semua postingan

Muhasabah Akhir Tahun

Written By Dedi sufian on Kamis, 20 Desember 2012 | 07.20


dakwatuna.com - “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Alhasyr [59]: 18).
Setiap Mukmin dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas amalnya. Untuk peningkatan kualitas amal, muhasabah (evaluasi) sangat diperlukan. Tanpa muhasabah tidak akan ada peningkatan kualitas amal. Karena itu, muhasabah menjadi karakter utama pribadi Mukmin, sebagaimana ditegaskan dalam ayat di atas.
Umar bin Khattab, seorang sahabat yang dikenal sebagai Amirul Mukminin pernah mengingatkan umat Islam dengan perkataannya yang sangat populer, “Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu.” Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.
Muhasibi, seorang sufi dan ulama besar yang menguasai beberapa bidang ilmu, seperti hadits dan fiqih. Nama lengkapnya Abu Abdillah al-Haris bin Asad al-Basri al-Bagdadi al-Muhasibi. Ketika ia ditanya tentang beberapa hal yang berkaitan dengan soal muhasabah. “Dengan apa jiwa itu dihisab?” Ia menjawab, “Jiwa itu dihisab dengan akal.” Ia ditanya lagi, “Dari mana datangnya hisab itu?” Ia menjawab, “Hisab itu datang dari adanya rasa takut akan kekurangan, hal-hal yang merugikan, dan adanya keinginan untuk menambah keuntungan.”
Muhasabah dalam pandangan Muhasibi, mewariskan nilai tambah dalam berpikir (basirah), kecerdikan, dan mendidik untuk mengambil keputusan yang lebih cepat, memperluas pengetahuan, dan semua itu didasarkan atas kemampuan hati untuk mengontrolnya.
Ketika ditanya, “Dari mana sumber keterlambatan akal dan hati untuk menghisab diri?” Ia menjawab, “Keterlambatan itu disebabkan oleh karena hati. Dalam keadaan demikian hati sangat didominasi oleh kekuatan hawa nafsu dan syahwat yang kemudian menguasai akal, ilmu, dan argumen.”
Ketika ditanya, “Dari mana kebenaran datang?” Ia menjawab, ”Kebenaran itu datang karena pengetahuan kita bahwa Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Melihat. Pengetahuan itu merupakan dasar bagi kebenaran dan kebenaran merupakan dasar segala perbuatan baik. Karena kemampuan dan kekuatan kebenaran itulah, seorang hamba dapat meningkatkan segala perbuatan baik dan kebajikannya.”
Muhasabah merupakan kesadaran akal untuk menjaga diri dari pengkhianatan nafsu melalui proses pencarian kelebihan dan kekurangan diri. Karena itu, muhasabah menjadi lampu di hati setiap orang yang melaksanakannya.
Karena itu, momentum pergantian tahun baru Masehi mestinya dijadikan sebagai sarana untuk muhasabatun nafsi (evaluasi diri) atas berbagai amal yang telah dilakukan, agar kehidupan lebih baik dan bermakna di hadapan Allah SWT. Wallahu a’lam.



Meretas Peradaban Madani Indonesia


dakwatuna.com - Sesungguhnya Allah melipat untukku bumi, maka aku bisa melihat ujung timur bumi dan ujung baratnya. Dan Sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang di lipat untukku. Aku juga dikaruniai dua perbendaharaan (kekayaan) MERAH dan PUTIH(HR, Muslim: kitabul fitan nomor 5144)
Indonesia Anugerah Allah SWT yang TerzhalimiDi dalam kajian geologi ada sebuah tempat yang dinyatakan sebagai negeri Atlantis yang di kenal kaya raya di darat dan lautannya. Negeri Atlantis adalah benua yang ditenggelamkan oleh lautan sejak berakhirnya zaman es sekitar 11.600 tahun yang lalu setinggi 120 sampai 150 meter. Prof. Aryso Santos, seorang geolog dan fisikawan nuklir berkebangsaan Brasil menyatakan bahwa Negeri Atlantis yang kaya raya sumber daya alamnya itu adalah “Indonesia “1.
Indonesia seperti yang termaktub dalam Wikipedia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu di sebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berkependudukan Muslim terbesar di dunia (85% dari seluruh penduduk Indonesia). Saya kemukakan beberapa fakta terbaru mengenai Indonesia yang mungkin beberapa sejalan dengan pernyataan Prof. Aryso Santos. Indonesia adalah Negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua. Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia. Kemudian sekali lagi saya ulangi bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya adalah Muslim terbesar di dunia dan masih banyak lagi yang Indonesia miliki dan tidak di miliki oleh negara lain.
Sungguh Allah SWT memberikan anugerah yang sangat luar biasa. Namun di sisi lain Indonesia mengalami keterpurukan yang sangat ironis. Beberapa fakta mengenai keterpurukan Indonesia adalah “angka kemiskinan” di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia masih tinggi tingkat kemiskinannya. Data statistik menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2010 sebesar 31,02 juta orang (13,33 persen)2. Angka pengangguran tenaga kerja produktif di Indonesia sangat tinggi dari tahun ke tahun. Data Indonesia menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia memiliki trend yang terus meningkat. Kemudian, dari angkatan kerja di Indonesia yang mencapai sekitar 102,55 juta orang, 9,39 juta orang di antaranya tergolong pengangguran pada tahun 2008 (BPS, 2009). Korupsi, kolusi, dan nepotisme  di Indonesia merupakan  negara paling korup dari 16 negara Asia Pasifik yang menjadi tujuan investasi para pelaku bisnis.  Itulah hasil survei pelaku bisnis yang dirilis Senin, 8 Maret 2010 oleh perusahaan konsultan “Political & Economic Risk Consultancy” (PERC) yang berbasis di Hong Kong. Tentunya masih banyak lagi keterpurukan-keterpurukan Indonesia di bidang yang lainnya. Dengan menggunakan logika komparasi dua kenyataan yang saya rangkum di atas maka saya dengan sangat memprihatinkan menyebutkan bahwa “Indonesia adalah anugerah Allah SWT yang terzhalimi”. Apalagi melihat fakta bahwa umat Muslim terbesar di dunia adalah di Indonesia dan ini yang seharusnya menjadi renungan kita. Bolehlah saya menyimpulkan bahwa umat Muslim Indonesia masih belum menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman yang seharusnya membawa rahmat terkhusus untuk Indonesia.
Ke manakah anak zaman. Ke manakah ke manakah perginya anak-anak muda Al Kahfi? Tidurkah anak-anak muda ini? Ke manakah peta zaman akan di bawa … (Muhammad Ilyas)
Islam dan Nilai Al-Quran dalam Meretas Peradaban Madani di IndonesiaOrang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh perbuatan ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar dan kepada Allah kembali segala urusan”. (QS. Al Hajj: 41)
Di dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) Madani merupakan sebuah padanan kata yang berarti berhubungan dengan hak-hak sipil; berhubungan dengan perkotaan; menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban. Anugerah yang Allah berikan untuk Indonesia berupa kelimpahan materi ternyata bukan sebuah nilai yang semata-mata dapat dijadikan modal untuk meretas peradaban di Indonesia. Namun ada hal lain yang sebenarnya akan menopang semua proses-proses pencapaian cita-cita tersebut yaitu nilai keimanan. Pertemuan antara nilai karakter pribadi bangsa dengan wawasan dan profesionalitas kerja dalam melakukan pemberdayaan potensi yang ada. Yang pertama kali yang harus di bangun adalah keberimanan bangsa secara totalitas kepada Allah SWT. Hal ini merupakan hal mendasar yang perlu di lakukan guna meretas jalan peradaban madani itu. Secara bahasa sederhananya saya ungkapkan bahwa masyarakat Indonesia terutama umat Muslim harus kembali membangun kepribadian dan karakter Qurani dalam dirinya. Yaitu masyarakat yang dibahasakan oleh Dr. Yusuf Qaradhawi masyarakat yang berbasis syariat Islam. Masyarakat yang tegak di atas aqidah, keimanan dan akhlak.
Karena peradaban yang akan di bangun adalah peradaban yang hanya bersifat nilai material saja seperti yang sekarang dibangun oleh barat. Namun peradaban yang merupakan puncak di pertemukannya nilai-nilai moral dan akhlak dengan nilai kemajuan fisik dan materi juga di tunjukkan dalam kemajuan ilmu dan teknologi.
Lalu bagaimanakah dan jalan seperti apakah yang harus di tempuh melalui Al-Quran itu? Saya akan awali penguraian proses penting itu dengan kembali merujuk pada Al Quran itu sendiri tentunya. Problem apa pun yang tengah terjadi atau proses apa pun yang sedang di usahakan, maka semuanya telah Allah ciptakan Al-Quran sebagai solusi dan penawarnya. Maka bersyairlah seorang ulama bernama Dr. Aidh Al Qarni penulis buku la tahzan.
Wahai Al-QuranKudengar engkauDi saat malam terasa sepiKau berjalanMengguncangkan alam semestaMaha suci Allah yang telah menjalankannyaDengan mu ku buka duniaDengan mu kupancarkan sinarnyaKami berjalan di atas duniaMemenuhinya dengan sejuta pahalaKetika kita sedang mengalami krisis atau keterpurukan. Maka Al-Quran menjawab bahwa hal yang sedang kita alami seperti ini seharusnya menuntut kita untuk kembali kepada sang maha hidup yang dengan rapih mengatur urusan hambanya. Firman Allah SWT “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitan pun Menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan” (QS. Al An’am: 43). Begitulah sedikit gambaran karakter ketika kita harus kembali kepada nilai-nilai Al-Quran dalam meretas jalan peradaban madani. Peradaban dilahirkan dari ide besar yang kemudian ide itu di topang oleh sumber daya dan kekuatan. Karena peradaban madani adalah gambaran realisasi dari nilai-nilai Al Quran.
Berikutnya masyarakat harus melakukan kerja-kerja peradaban setelah kita giring kesadaran karakter umat kembali kepada nilai Al Quran tadi. Ada beberapa hal mendasar yang harus di internalisasi ke dalam kerja-kerja peradaban, di antaranya:
1. Kerja peradaban berbasis riset
Masyarakat harus terbiasa untuk melakukan riset-riset. Kita harus meningkatkan intensitas membaca secara mendalam dan terjun ke medan lapangan mendalami persoalan dengan sampai tuntas. Maka jejak rekam riset itu di interpretasikan secara kritis dan objektif sehingga semuanya tersadari menjadi sebuah budaya yaitu budaya berfikir karena itulah syarat ulil albab.
2. Kerja berbasis kompetensi
Secara komunal atau personal masyarakat Indonesia harus menggali kompetensi yang di miliki kemudian mengasahnya secara matang kemudian dipertanggungjawabkan ke publik. Masyarakat Indonesia akhirnya akan melahirkan para pakar di bidangnya. Dengan kompetensi juga akan di dapat hasil kerja yang lebih memuaskan.
3. Kerja berbasis kompetitor
Di setiap ruang kerja peradaban maka fakta yang harus di hadirkan adalah bahwa kita sedang tertinggal dan dengan hal itu maka kita sedang menghadapi kompetitor kita. Dengan itulah akan muncul dinamisasi yang akan menghidupi gerak kerja-kerja peradaban kita.
4. Kerja berbasis sinergis
Banyak dari masyarakat yang akan menempati hal strategis sehingga ini akan menjadi kekuatan yang tersusun rapi dengan cara memenejnya dengan baik sehingga setiap kekuatan yang telah dimiliki akan bersinergis.
Semuanya harus dilakukan dengan amal nyata. Tidak hanya berhenti di tataran ide. Realisasilah yang akan menggambarkan peradaban madani itu. Maka dengan seksama akan kita saksikan pembangunan peradaban sedikit demi sedikit akan memancarkan pesonanya. Kemudian sekarang yang akan memangku kerja besar itu siapa? Maka dengan lantang saya akan meneriakkan bahwa yang tepat untuk memikul kerja itu adalah “para pemuda Indonesia”. Pemudalah yang akan menggagas semua itu. Pemudalah yang akan menerjang beberapa tantangan yang akan dilalui dalam meretas peradaban madani di Indonesia. Sehingga para malaikat ikut membersamai para pemuda rabbani dan melantunkan doa untuk mereka-mereka yang berproses dalam kerja besar meretas peradaban madani di Indonesia.

Catatan Kaki:
  1. Atlantis : The Lost Continent Finally Found (1997-2009)
  1. Sensus Penduduk BPS 2010. www.bps.go.id
Sumber Inspirasi:
  1. Jurnal Muslim Negarawan
  1. Masyarakat berbasis Syariat Islam, Dr. Yusuf Qaradhawi 2003
  1. The way of Al Qur’an, Dr. Aidh Al Qari 2007
  1. Menuju Masyarakat Madani, Prof. DR. Azyumardi Azra
  1. Wikipedia
  1. www.bps.go.id


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25604/meretas-peradaban-madani-indonesia/#ixzz2FbLkqiJ4

Tertundanya Kematian

Written By Dedi sufian on Minggu, 24 Juni 2012 | 06.12

Suatu ketika, Nabi Daud a.s. duduk di suatu tempat. Di sampingnya, ada seorang pemuda saleh yang duduk dengan tenang tanpa banyak bicara. Tiba-tiba, datang Malaikat Maut yang mengucapkan salam kepada Nabi Daud. Anehnya, Malaikat Maut terus memandang pemuda itu dengan serius.


Nabi Daud berkata kepadanya, "Mengapa engkau memandangi dia?"

Malaikat Maut menjawab, "Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya tujuh hari lagi di tempat ini!"

Nabi Daud pun merasa iba dan kasihan kepada pemuda itu. Beliau pun berkata kepadanya, "Wahai Anak Muda, apakah engkau mempunyai istri?"

"Tidak, saya belum pernah menikah," jawabnya.

"Datanglah engkau kepada Fulan - seseorang yang sangat dihormati di kalangan Bani Israil - dan katakan kepadanya, 'Daud menyuruhmu untuk mengawinkan anakmu denganku.' Lalu, kau bawa perempuan itu malam ini juga. Bawalah bekal yang engkau perlukan dan tinggallah bersamanya. Setelah tujuh hari, temuilah aku di tempat ini."

Pemuda itu pergi dan melakukan apa yang dinasihatkan Nabi Daud kepadanya. Dia pun dinikahkan oleh orang tua si Gadis. Dia tinggal bersama istrinya selama tujuh hari. Pada hari kedelapan pernikahannya, dia menepati janjinya untukbertemu dengan Daud.

"Wahai Pemuda, bagaimana engkau melihat peristiwa itu?"

"Seumur hidupku, aku belum pernah merasakan kenikmatan dan kebahagiaan seperti yang kualami beberapa hari ini," jawabnya.

Kemudian, Nabi Daud memerintahkan pemuda itu untuk duduk di sampingnya guna menunggu kedatangan malaikat yang hendak menjemput kematiannya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Nabi Daud berkata, "Pulanglah kepada keluargamu dan kembalilah ke sini untuk menemuiku di tempat ini delapan hari setelah ini."

Pemuda itu pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Pada hari kedelapan, dia menemui Nabi Daud di tempat tersebut dan duduk di sampingnya. Kemudian, kembali lagi pada minggu berikutnya, dan begitu seterusnya. Setelah sekian lama, datanglah Malaikat Maut kepada Nabi Daud.

"Bukankah engkau pernah mengatakan kepadaku bahwa engkau akan mencabut nyawa anak pemuda ini dalam waktu tujuh hari ke depan?"

Malaikat itu menjawab, "Ya."

Nabi Daud berkata lagi, "Telah berlalu delapan hari, delapan hari lagi, delapan hari lagi, dan engkau belum juga mencabut nyawanya."

"Wahai Daud, sesungguhnya Allah swt merasa iba kepadanya lalu dia menunda ajalnya sampai tiga puluh tahun yang akan datang."

Pemuda dalam kisah ini adalah seseorang yang taat beribadah, ahli munajat, gemar berbuat kebaikan, dan sangat penyayang kepada keluarganya. Boleh jadi, karena amal saleh dan doa-doanyalah, Allah Swt. berkenan menunda kematian sang Pemuda hingga tiga puluh tahun lamanya.

Sungguh, suatu kaum akan ditimpa azab oleh Allah sebagai suatu ketetapan yang pasti. Namun, kemudian seorang anak di antara mereka membaca, "Alhamdulillahi Rabbil Alamin." Ucapan itu didengar Allah dan Dia mengangkat azab-Nya dari mereka karena bacaan itu selama 40 tahun. (Fakhruddin Ar Razi)

Cerita motivasi

Written By Dedi sufian on Senin, 30 April 2012 | 20.13

Alkisah ada seorang wanita yang hidup di sebuah desa terpencil, dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi wajahnya. Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota kepada kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak oleh kedua orang tuanya. Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya dia pun menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya datang menghampiri dia. Dan tiba-tiba ibunya bilang “Kamu boleh pergi ke kota nak”.

Mendengar perkataan ibunya dia pun tersenyum. Dan pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke kota. Di tengah perjalanan yang lama dan melelahkan dia istirahat di sebuah rumah, dan dia pun membayangkan, ” andai ku bisa membangun rumah mewah dan dapat mengoprasi wajah ku yang biasa menjadi luar biasa ini.” Tiba-tiba di tengah-tengah lamunannya datang seorang nenek tua menghampirinya, dan bertanya “kenapa nak kamu tersenyum sendiri?”
“Saya sedang membayangkan andaikan saja ku bisa sukses di kota dan dapat mengoprasi wajahku ini”, kata dia. Dan nenek itu mengeluarkan jam kecil dari kantongnya, kemudian nenek itu berkata “Kamu tinggal putar jam itu sesuai dengan putaran jarum jam, bila kamu ingin segera meraih cita-citamu”.
“Baik nek”, kata wanita tadi.
Kemudian tak berapa lama dia memutar jam tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan nenek tadi. Dan tiba-tiba dia bisa bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Tapi dia tak puas dengan lamanya waktu yang di perlukan agar bisa mengoprasi wajahnya.

Kemudian dia kembali memutar jam tersebut, dan wajahnya pun menjadi cantik. Lagi-lagi dia kurang puas dengan wajahnya, dan kembali dia memutar jam kecil pemberian nenek-nenek yang pernah dia temui sekali lagi. Tapi setelah memutar jamnya dia mendapati wajahnya yang semula cantik jelita menjadi tua dan keriput. Dan dia menyesal dengan keadaan dia sekarang. Kemudian dia kembali menemui nenek-nenek yang memberi dia jam di tempat di mana dia bertemu. Tapi dia tak melihat nenek tersebut karena nenek itu telah lama meninggal. Dia pun hanya bisa menyesal dan menangisi nasibnya.

Teman-teman ku apa pesan yang dapat kita ambil dari kejadian wanita tadi?

Jadilah diri sendiri karena hanya dengan menjadi diri sendiri kita akan menjadi pribadi yang hidup dengan penuh rasa bahagia, damai, dan mulia.
Raihlah cita-cita dengan penuh pengorbanan, kegigihan, dan kedisiplinan waktu untuk belajar.
Kesuksesan bukan datang dari nasib dan keberuntungan, tapi datang dari kerja keras, ketidak putus asaan dan keyakinan.
Semoga bermanfaat

Seni Menata Hati

Written By Dedi sufian on Rabu, 07 Maret 2012 | 16.20

Seni Menata Hati Dalam Bergaul

Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang penuh keikhlasan, yang insya Allah akan terasa sangat indah dan menyenangkan. Pergaulan yang penuh rekayasa dan tipu daya demi kepentingan yang bernilai rendah tidak akan pernah langgeng dan cenderung menjadi masalah.

1. AKU BUKAN ANCAMAN BAGIMU
Kita tidak boleh menjadi seorang yang merugikan orang lain, terlebih kalau kita simak Rasulullah Saw. bersabda, "Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari)

a. Hindari penghinaan
Apapun yang bersifat merendahkan, ejekan, penghinaan dalam bentuk apapun terhadap seseorang, baik tentang kepribadian, bentuk tubuh, dan sebagainya, jangan pernah dilakukan, karena tak ada masalah yang selesai dengan penghinaan, mencela, merendahkan, yang ada adalah perasaan sakit hati serta rasa dendam.

b. Hindari ikut campur urusan pribadi
Hindari pula ikut campur urusan pribadi seseorang yang tidak ada manfaatnya jika kita terlibat. Seperti yang kita maklumi setiap orang punya urusan pribadi yang sangat sensitif, yang bila terusik niscaya akan menimbulkan keberangan.

c. Hindari memotong pembicaraan
Sungguh dongkol bila kita sedang berbicara kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal, berbeda halnya bila uraian tuntas dan kemudian dikoreksi dengan cara yag arif, niscaya kita pun berkecenderungan menghargainya bahkan mungkin menerimanya. Maka latihlah diri kita untuk bersabar dalam mendengar dan mengoreksi dengan cara yang terbak pada waktu yang tepat.

d. Hindari membandingkan
Jangan pernah dengan sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penamplan, harta, kedudukan seseorang sehingga yang mendengarnya merasa dirinya tidak berharga, rendah atau merasa terhina.

e. Jangan membela musuhnya, mencaci kawannya
Membela musuh maka dianggap bergabung dengan musuhnya, begitu pula mencaci kawannya berarti memusuhi dirinya. Bersikaplah yang netral, sepanjang diri kita menginginkan kebaikan bagi semua pihak, dan sadar bahwa untuk berubah harus siap menjalani proses dan tahapan.

f. Hindari merusak kebahagiannya
Bila seseorang sedang berbahagia, janganlah melakukan tindakan yang akan merusak kebahagiaanya. Misalkan ada seseorang yang merasa beruntung mendapatkan hadiah dari luar negeri, padahal kita tauh persis bahwa barang tersebut buatan dalam negeri, maka kita tak perlu menyampaikannya, biarlah dia berbahagia mendapatkan oleh-oleh tersebut.

g. Jangan mengungkit masa lalu
Apalagi jika yang diungkit adalah kesalahan, aib atau kekurangan yang sedang berusaha ditutupi. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kesalahan yang sangat ingin disembunyikannya, termasuk diri kita, maka jangan pernah usil untuk mengungkit dan membeberkannya, hal seperti ini sama denga mengajak bermusuhan.

h. Jangan mengambil haknya
Jangan pernah terpikir untuk menikmati hak orang lain, setiap gangguan terhadap hak seseorang akan menimbulkan asa tidak suka dan perlawanan yang tentu akan merusak hubungan.. Sepatutnya kita harus belajar menikmati hak kita, agar bermanfaat dan menjadi bahan kebahagiaan orang lain.

i. Hati-hati dengan kemarahan
Bila anda marah, maka waspadalah karenan kemarahan yang tak terkendali biasanya menghasilkankata dan perilaku yang keji, yang sangat melukai, dan tentu perbuatan ini akan menghancurkan hubungan baik di lingkungan manapun. Kita harus mulai berlatih mengendalikan kemarahan sekuat tenaga dan tak usah sungkan untuk meminta maaf andai kata ucaan dirasakan berlebihan.

j. Jangan menertawakannya
Sebagian besar dari sikap menertawakan seseorang adalah karena kekurangannnya, baik sikap, penampilan, bentuk rupa, ucapan dan lain sebagainya, dan ingatlah bahwa tertawa yang tidak pada tempatnya serta berlebihan akan mengundang rasa sakit hati.

k. Hati-hati dengan penampilan, bau badan dan bau mulut
Tidak ada salahnya kita selalu mengontrol penampilan, bau badan atau mulut kita, karena penampilan atau bau badan yang tidak segar akan membuat orang lain merasa terusik kenyamanannya, dan cenderung ingin menghindari kita.


2. AKU MENYENANGKAN BAGIMU

a. Wajah yang selalu cerah ceria
Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah besabda, "Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta". (Sunan Abu Dawud).

b. Senyum tulus
Rasulullah senantiasa tersenyum manis sekali dan ini sangat menyenangkan bagi siapapun yang menatapnya. Senyum adalah sedekah, senyuman yang tulus memiliki daya sentuh yang dalam ke dalam lubuk hati siapapun, senyum adalah nikmat Allah yang besar bagi manusia yang mencintai kebaikan. Senyum tidak dimiliki oleh orang-orang yang keji, sombong, angkuh, dan orang yang busuk hati.

c. Kata-kata yang santun dan lembut
Pilihlah kata-kata yang paling sopan dengan dan sampaikan dengan cara yang lembut, karena sikap seperti itulah yang dilakukan Rasulullah, ketika berbincang dengan para sahabatnya, sehingga terbangun suasana yang menyenangkan. Hindari kata yang kasar, menyakitkan, merendahkan, mempermalukan, serta hindari pula nada suara yang keras dan berlebihan.

d. Senang menyapa dan mengucapkan salam
Upayakanlah kita selalu menjadi orang yang paling dahulu dalam menyapa dan mengucapkan salam. Jabatlah tagan kawan kita penuh dengan kehangatan dan lepaslah tangan sesudah diepaskan oleh orang lain, karena demikianlah yang dicontohkan Rasulullah. Jangan lupa untuk menjawab salam dengan sempurna dan penuh perhatian.

e. Bersikap sangat sopan dan penuh penghormatan
Rasulullah jikalau berbincang dengan para sahabatnya selalu berusaha menghormati dengan cara duduk yang penuh perhatian, ikut tersenyum jika sahabatnya melucu, dan ikut merasa takjub ketika sahabatnya mengisahkan hal yang mempesona, sehingga setiap orang merasa dirinya sangat diutamakan oleh Rasulullah.

f. Senangkan perasaannya
Pujilah dengan tulus dan tepat terhadap sesuatu yang layak dipuji sambil kita kaitkan dengan kebesaran Allah sehingga yang dipuji pun teringat akan asal muasal nikmat yang diraihnya, nyatakan terima kasih dan do’
akan. Hal ini akan membuatnya merasa bahagia. Dan ingat jangan pernah kikir untuk berterima kasih.

g. Penampilan yang menyenangkan
Gunakanlah pakaian yang rapi, serasi dan harum. Menggunakan pakaian yang baik bukanlah tanda kesombongan, Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, tentu saja dalam batas yang sesuai syariat yang disukai Allah.

h. Maafkan kesalahannya
Jadilah pemaaf yang lapang dan tulus terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain kepada kita, karena hal ini akan membuat bahagia dan senang siapapun yang pernah melakukan kekhilafan terhadap kita, dan tentu hal ini pun akan mengangkat citra kita dihatinya.



3. AKU BERMANFAAT BAGIMU
Keberuntungan kita bukanlah diukur dari apa yang kita dapatkan tapi dari nilai mamfaat yang ada
dari kehadiran kita, bukankah sebaik-baik diantara manusia adalah orang yang paling banyak
mamfaatnya bagi hamba-hamba Allah lainnya.

a. Rajin bersilaturahmi
Silaturahmi secara berkala, penuh perhatian, kasih sayang dan ketulusan walaupun hanya beberapa saat, benar-benar akan memiliki kesan yang mendalam, apalagi jikalau membawa hadiah, insya Allah akan menumbuhkan kasih sayang.

b. Saling berkirim hadiah
Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa saling memberi dan berkirim hadiah akan menumbuhkan kasih sayang. Jangan pernah takut miskin dengan memberikan sesuatu, karena Allah yang Maha Kaya telah menjanjikan ganjaran dan jaminan tak akan miskin bagi ahli sedekah yang tulus.

c. Tolong dengan apapun
Bersegeralah menolong dengan segala kemampuan, harta, tenaga, wakt atau setidaknya perhatian yang tulus, walau perhatian untuk mendengar keluh kesahnya. Apabila tidak mampu, maka do’akanlah, dan percayalah bahwa kebaikan sekecil apapun akan diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh Allah.

d. Sumbangan ilmu dan pengalaman
Jangan pernah sungkan untuk mengajarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki, kita harus berupaya agar ilmu dan pengalaman yang ada pada diri kita bisa menjadi jalan bagi kesuksesan orang lain.


Insya Allah jikalau hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas maka, kebahagiaan dalam bergaul dengan siapapun akan tersa nikmat, karena tidak mengharapkan sesuatu dari orang melainkan kenikmatan kita adalah melakukan sesuatu untuk orang lain. Semata karena Allah SWT.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Fajar Insan Cendikia (FIC) Pendidikan Karakter - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger